EFEKTIVITAS PROGRAM RESKILLING DAN UPSKILLING BISPAR (BISNIS DAN PARIWISATA) TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS KOMPETENSI GURU DAN SISWA SMK BDP (BISNIS DARING PEMASARAN)

Spread the love

(THE EFFECTIVENESS OF THE BISPAR RESKILLING AND UPSKILLING PROGRAM (BUSINESS AND TOURISM) ON INCREASING THE QUALITY OF TEACHERS AND STUDENTS OF VOCATIONAL SCHOOL BDP (ONLINE BUSINESS MARKETING)

Abstrak: 

Menjawab tantangan perkembangan Pendidikan di era 5.0 dimana Pendidikan vokasi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan industry dan untuk itulah kementrian Pendidikan membuat program pelatihan guru melalui reskilling dan upskilling khusus untuk jenjang SMK diharapkan program ini dapat berjalan efektif sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penelitian ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner di google form kepada guru BDP (Bisnis daring Pemasaran) yang telah mengikuti program reskilling dan upskilling pada tahun 2020 dan 2021 sebanyak 82 responden. Dari hasil yang diperoleh 60% responden memberikan feedback positif dari kegiatan tersebut. Diharapkan juga program ini dapat berjalan rutin setiap tahun dengan peserta guru SMK, sehingga seluruh guru SMK di Indonesia dapat lebih mengembangkan potensi profesionalnya sehingga output yang diharapkan industri dapat tercapai dan tentunya dapat menekan angka pengangguran di jenjang SMK. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kegiatan reskilling dan upskilling yang telah dijalankan pada tahun 2020 sampai 2021 saat ini memiliki efekvititas terhadap kompetensi guru dan siswa SMK. 

(kata kunci: reskilling, upskilling, kurikulum, sinkronisasi, magang)

Abstract:

Responding to the challenges of the development of education in era 5.0 where vocational education is needed to answer industry needs and for that the Ministry of Education has created a teacher training program through reskilling and special upskilling for the SMK level. This research was conducted by distributing questionnaires on google form to online business and marketing teachers (BDP) who had participated in the reskilling and upskilling program as many as 82 respondents at 2020 until 2021. From the results obtained 60% of respondents gave positive feedback from these activities. It is also hoped that this program can run regularly every year with SMK teacher participants, so that all SMK teachers in Indonesia can further develop their professional potential so that the output expected by the industry can be achieved and of course can reduce unemployment at the SMK level. This study aims to see the extent to which reskilling and upskilling activities that have been carried out in 2020 to 2021 have effectiveness on the competence of teachers and vocational students.

(key words: reskilling, upskilling, curriculum, synchronization, internship)

Perkembangan pendidikan sangat disoroti oleh pemerintah Indonesia, dengan adanya pandemi tidak membuat semangat para guru terhenti. Sejak tahun 2020 pemerintah Pendidikan vokasi bekerjasama dengan Mitras DUDI menyelenggarakan program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru SMK yaitu reskilling dan upskilling dengan tujuan untukmenjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration). Pentingnya 4C bagi dunia Pendidikan saat ini diharapkan dapat menjawab tantangan globalisasi Pendidikan dan untuk menjawab itu semua dilakukan sinkronisasi kurikulum. Saat ini kurikulum pendidikan vokasi tidak bisa lagi bersifat monodisiplin linier. terbuka, multidisiplin, kurikulum transdisipliner dari berbagai keterampilan diperlukan. Diperkirakan bahwa pendekatan pendidikan vokasi berbasis program studi sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan untuk memenuhi pengembangan keterampilan kerja era disrupsi.

Selama pandemi covid ini banyak sekali pelatihan atau diklat dilakukan dengan daring (dalam jaringan) dengan tujuan tidak menjadikan pandemi sebagai halangan untuk mengembangkan diri. Diklat pengembangan kualitas pendidikan SMK dilakukan oleh BBPPMPV melalui program reskilling dan upskilling yang diselenggarakan secara kombinasi daring dan luring disertai dengan magang selama satu bulan dengan melibatkan Industri yang kompeten, dengan tujuan meningkatkan kualitas kompetensi guru dan siswa SMK. 

Upskilling is the process of learning new skills or of teaching workers new skills. Upskilling adalah proses mempelajari keterampilan baru atau mengajarkan keterampilan baru kepada pekerja. Sedangkan Reskilling is the process of learning new skills so you can do a different job, or of training people to do a different job. Reskilling adalah proses mempelajari keterampilan baru sehingga Anda dapat melakukan pekerjaan yang berbeda, atau melatih orang untuk melakukan pekerjaan yang berbeda.

Melalui program ini diharapkan terjadi sinkronisasi antara IDUKA dengan sekolah sehingga ouput dari SMK dapat memenuhi kebutuhan IDUKA. Diharapkan dengan adanya program reskilling dan upskilling hal ini dapat memberikan efektivitas bagi guru dan siswa. Efektivitas merupakan sebuah patokan untuk membandingkan antara proses yang dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang dicapai. Suatu program dikatakan efektif apabila usaha atau tindakan yang dilakukan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Efektivitas digunakan sebagai tolok ukur untuk membandingkan antara rencana dan proses yang dilakukan dengan hasil yang dicapai. Aspek-aspek efektivitas dapat dilihat dari aspek-aspek antara lain aspek tugas atau fungsi, aspek rencana atau program, aspek ketentuan dan peraturan, aspek tujuan atau kondisi ideal.

Berdasarkan aspek efektivitas tersebut tersebut dalam artikel ini akan memberikan informasi efektivitas program reskilling dan upskilling terhadap kompetensi guru dan siswa SMK dengan sub variabel materi, DUDIKA, program magang, sinkronisasi kurikulum dan feedback dengan data primer peserta reskilling dan upskilling bispar kompetensi keahlian Bisnis Daring Pemasaran (BDP). Penelitian dilakukan melalui daftar tanya jawab atau kuesioner yang disebar melalui google form kepada guru-guru BDP yang telah mengikuti program reskilling dan upskilling pada tahun 2020 dan 2021 sejumlah 82 responden.

Pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan di Indonesia secara dinamis mengikuti perkembangan zaman. perkembangan tersebut dapat dilihat dari pergantian kurikulum belajar yang berlaku. Hingga saat ini, setidaknya sistem pendidikan di Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak 10 kali, sejak dimulai dari tahun 1947. 

  1. Kurikulum Rentjana Pelajaran 1947 kurikulum pertama pendidikan di Indonesia yang diberlakukan sejak kemerdekaan. Kurikulum ini berorientasi politik dengan mengganti sistem pendidikan Belanda, menjadi pendidikan asli buatan Indonesia. Melalui kurikulum inilah pertama kali Pancasila menjadi landasan dasar pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini dirancang pada tahun 1947 dan diaplikasikan pada tahun 1950.
  2. Kurikulum Rentjana Pelajaran Terurai 1952, Mengingat kurikulum pada periode sebelumnya belum terfokus terhadap mata pelajaran lain selain pembentukan watak, di periode ini beberapa aspek disempurnakan. Pada periode ini dibentuk silabus atau rencana pembelajaran dengan tenaga pendidik mengajarkan spesifik mata pelajaran kepada peserta didik.
  3. Kurikulum Rentjana Pendidikan 1964, Menyempurnakan pada kurikulum sebelumnya, kurikulum pendidikan di Indonesia pada tahun ini, pemerintah memiliki tujuan untuk memberikan pembekalan akademik dan non akademik pada jenjang sekolah dasar. Dengan tujuan tersebut, lahirlah program Pancawardhana yaitu kelompok lima bidang studi yang meliputi pengembangan moral, keprigelan atau keterampilan, jasmani, dan emosional.
  4. Kurikulum 1968, Kurikulum pada tahun ini difokuskan pada pembentukan bangsa Indonesia yang berjiwa Pancasila sejati. Yang mana jiwa Pancasila yang dimaksud ada masyarakat yang sehat, kuat, cerdas, bermoral, dan keyakinan akan beragama yang dianut.
  5. Kurikulum Pendidikan 1975, Efektifitas dan efisiensi merupakan ciri dari kurikulum pendidikan yang diterapkan pada tahun 1975 ini. Kurikulum ini dibentuk dipengaruhi oleh manajemen objektivitas yang mana muncul Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PSSI) atau pendidikan satuan pelajaran.
  6. Kurikulum Pendidikan 1984, Ciri dari kurikulum pada masa ini adalah fokus utama dititik beratkan kepada keahlian. Di periode ini, peserta didik merupakan subjek pembelajaran. Beberapa hal yang dilakukan adalah dengan mengaplikasikan metode pembelajaran dengan pengamatan, pengelompokkan, diskusi, hingga pelaporan. Metode ini biasanya disebut sebagai Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
  7. Kurikulum 1994 dengan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum pada tahun ini merupakan pembaharuan dari kurikulum sebelum-sebelumnya, khususnya pada kurikulum tahun 1975 dan 1984. Pada periode ini, kurikulum pendidikan di Indonesia mendapatkan kritik karena dianggap beban belajar peserta didik yang terlampau berat. Pada periode kurikulum ini munculnya mata pelajaran baru seperti muatan nasional dan muatan lokal yang meliputi bahasa daerah, ketrampilan dan kesenian.
  8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Pembaharuan kurikulum berikutnya terjadi pada tahun 2004. Kurikulum ini berciri pencapaian kompetensi bagi peserta didik sebagai individu maupun kelompok dan berorientasi pada hasil pembelajaran. Tiga unsur-unsur yang membedakan sistem pendidikan ini dengan sebelumnya adalah pemilihan kompetensi yang sesuai minat peserta didik, pengembangan pembelajaran, dan proses evaluasi dalam penentuan keberhasilan.
  9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, Diluncurkan pada tahun 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP merupakan pembaharuan dari kurikulum sebelumnya. Perbedaan yang terlihat adalah adanya standar kompetensi dasar yang ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu, pada kurikulum ini tenaga pendidik dituntut dapat mengembangkan rencana pembelajaran secara mandiri dengan penyesuaian pada kondisi daerah sekolah berada.

Kurikulum 2013, Untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang terbaru dan saat ini sedang diaplikasikan dalam pendidikan di Indonesia adalah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 memiliki aspek-aspek yang menjadi pokok penilaian meliputi aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. 

Hingga saat ini kurikulum yang berlaku adalah kurikulum 2013 revisi yang lebih difokuskan merdeka belajar. Merdeka belajar ini adalah kemerdekaan berpikir, dimana harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Sejatinya seorang guru harus memiliki 4 kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan spiritual. 

  1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan atau keterampilan guru yang bisa mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan peserta didik. Setidaknya ada 7 aspek dalam kompetensi Pedagogik yang harus dikuasai, yaitu:
  1. Karakteristik para peserta didik. Dari informasi mengenai karakteristik peserta didik, guru harus bisa menyesuaikan diri untuk membantu pembelajaran pada tiap-tiap peserta didik. Karakteristik yang perlu dilihat meliputi aspek intelektual, emosional, sosial, moral, fisik, dll.
  2. Teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik. Guru harus bisa menerangkan teori pelajaran secara jelas pada peserta didik. Menggunakan pendekatan tertentu dengan menerapkan strategi, teknik atau metode yang kreatif.
  3. Pengembangan kurikulum. Guru harus bisa menyusun silabus dan RPP sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan. Mengembangkan kurikulum mengacu pada relevansi, efisiensi, efektivitas, kontinuitas, integritas, dan fleksibilitas.
  4. Pembelajaran yang mendidik. Guru tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, namun juga melakukan pendampingan. Materi pelajaran dan sumber materi harus bisa dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut.
  5. Pengembangan potensi para peserta didik. Setiap peserta didik memiliki potensi yang berbeda-beda. Guru harus mampu menganalisis hal tersebut dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai, supaya setiap peserta didik bisa mengaktualisasikan potensinya.
  6. Cara berkomunikasi. Sebagai guru harus bisa berkomunikasi dengan efektif saat menyampaikan pengajaran. Guru juga harus berkomunikasi dengan santun dan penuh empati pada peserta didik.
  7. Penilaian dan evaluasi belajar. Penilaiannya meliputi hasil dan proses belajar. Dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi terhadap efektivitas pembelajaran juga harus bisa dilakukan.

Kompetensi Pedagogik bisa diperoleh melalui proses belajar masing-masing guru secara terus menerus dan tersistematis, baik sebelum menjadi guru maupun setelah menjadi guru.

  • Kompetensi kepribadian, berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dll. Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki attitude yang baik.
  • Kompetensi professional adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru. Adapun indikator Kompetensi Profesional Guru diantaranya adalah:
  1. Menguasai materi pelajaran yang diampu, berikut struktur, konsep, dan pola pikir keilmuannya.
  2. Menguasai Standar Kompetensi (SK) pelajaran, Kompetensi Dasar (KD) pelajaran, dan tujuan pembelajaran dari suatu pelajaran yang diampu.
  3. Mampu mengembangkan materi pelajaran dengan kreatif sehingga bisa memberi pengetahuan dengan lebih luas dan mendalam bagi peserta didik.
  4. Mampu bertindak reflektif demi mengembangkan keprofesionalan secara kontinu.
  5. Mampu memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses pembelajaran dan juga pengembangan diri.

Dengan menguasai kemampuan dan keahlian khusus seperti yang sudah dijelaskan di atas, diharapkan fungsi dan tugas guru bisa dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian, guru mampu membimbing seluruh peserta didiknya untuk mencapai standar kompetensi yang sudah ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan.

4. Kompetensi sosial berkaitan dengan keterampilan komunikasi, bersikap dan berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga masyarakat secara luas. Untuk melihat kompetensi ini dapat dilakukan dengan observasi langsung terhadap perubahan sikap guru dan peserta didik sesuai dengan norma yang berlaku, beretika dan sopan. Indikator dari Kompetensi Sosial Guru diantaranya:

  1. Mampu bersikap inklusif, objektif, dan tidak melakukan diskriminasi terkait latar belakang seseorang, baik itu berkaitan dengan kondisi fisik, status sosial, jenis kelamin, ras, latar belakang keluarga, dll.
  2. Mampu berkomunikasi dengan efektif, menggunakan bahasa yang santun dan empatik.
  3. Mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
  4. Mampu beradaptasi dan menjalankan tugas sebagai guru di berbagai lingkungan dengan bermacam-macam ciri sosial budaya masing-masing.

Kompetensi inilah yang dibutuhkan untuk menjawab tatangan pendidikan industri 4.0 dan era society 5.0. Kompetensi pedagogik dan profesional memiliki pengaruh signifikan terhadap lulusan SMK yang dikabarkan menjadi penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia. Kualitas pedagogik dan profesional dapat dilakukan dengan cara melakukan pengembangan diri melalui program diklat. 

Berikut ini adalah hasil dari daftar tanya jawab melalui google form kepada 82 responden peserta reskilling dan upskilling BDP (Bisnis Daring Pemasaran) pada tahun 2020 dan 2021 dimana pertanyaan yag diajukan digai kedalam 2 kelompok yaitu kelompok evaluasi program reskilling dan reskilling dan kelompok evaluasi program reskilling dan upskilling dilihat dari kompetensi pendidik. 

Evaluasi program reskilling dan upskilling. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan:

  1. Materi pada program reskilling dan upskilling 

Dari 82 responden 39% atau sebanyak 32 responden menjawab materi pada program reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan kebutuhan sekolah, 36.6% atau sebanyak 30 responden menjawab materi reskilling dan upskilling sesuai dengan kebutuhan sekolah dan sebanyak 14 responden atau 17.1% menjawab cukup sesuai, dan sebanyak 6 responden atau 7.3% menjawab materi reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah. Berdasarkan pertanyaan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa 75.6% responden menyatakan bahwa materi pada program reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan kebutuhan sekolah dan sesuai dengan kompetensi Bisnis Daring dan Pemasaran, 

  • Penguasaan materi dari narasumber industri 

Dari 82 responden 43.9% atau sebanyak 36 responden menjawab bahwa narasumber industry sangat menguasai materi, 28% atau sebanyak 23 responden menjawab narasumber menguasai materi industry, 21.9% atau sebanyak 18 responden menjawab bahwa narasumber cukup menguasai materi industri, dan 6.2% atau 5 responden menjawab bahwa narasumber industri tidak menguasai materi industri. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 71.9% responden menyatakan bahwa narasumber menguasai materi industri Ketika pemaparan materi pada program reskilling dan upskilling.

  • IDUKA pada kegiatan resklling dan upskilling

Dari 82 responden sebanyak 46.3% atau sebanyak 38 responden menjawab IDUKA pada kegiatan reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan yang diharapkan atau kompetensi yang diberikan. 24.4% atau sebanyak 20 responden menjawab IDUKA pada kegiatan reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan yang diharapkan atau kompetensi yang diberikan. 20.7% atau sebanyak 17 responden menjawab IDUKA pada kegiatan reskilling dan upskilling cukup sesuai dengan yang diharapkan atau kompetensi yang diberikan. Dan 8.5% atau sebanyak 7 responden menjawab IDUKA pada kegiatan reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan yang diharapkan atau kompetensi yang diberikan. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 70.7% responden menjawab IDUKA pada kegiatan reskilling dan upskilling sesuai dengan yang diharapkan atau kompetensi yang diberikan

  • Program magang pada kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden menyatakan 54.9% atau sebanyak 45 responden menyatakan bahwa program magang reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. 29.3% atau 24 responden menyatakan bahwa program magang reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, 12.2% atau sebanyak 10 responden menyatakan bahwa program magang reskilling dan upskilling cukup sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dan sisanya 3.6% atau sebanyak 3 responden menyatakan bahwa program magang reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa program magang yang diselenggarakan oleh pemerintah pada program reskilling dan upskilling sebanyak 84.2% responden menyatakan sudah sesuai dengan kompetensi yang diharapkan

  • Sinkronisasi kurikulum pada kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden sebanyak 37.8% atau 31 responden menyatakan bahwa sinkronisasi kurikulum IDUKA pada program reskilling dan upskilling sudah sesuai, sebanyak 28% atau sebanyak 23 responden menyatakan bahwa sinkronisasi kurikulum IDUKA pada program reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai, 25.7% atau 21 responden menyatakan bahwa sinkronisasi kurikulum IDUKA pada program reskilling dan upskilling cukup sesuai dan 8.5% atau sebanyak 7 responden menyatakan bahwa sinkronisasi kurikulum IDUKA pada program reskilling dan upskilling tidak sesuai. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 65.8%menyatakan bahwa sinkronisasi kurikulum IDUKA pada program reskilling dan upskilling sudah sesuai.

  • Kegiatan daring (dalam jaringan) dari program reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 43.9% atau sebanyak 36 responden menyatakan bahwa kegiatan daring dari program reskilling dan upskilling sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi. 37.8% atau sebanyak 31 responden menyatakan bahwa kegiatan daring dari program reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi, 11% atau sebanyak 9 responden menyatakan bahwa kegiatan daring dari program reskilling dan upskilling cukup sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi dan sisanya 7.3% atau sebanyak 6 reponden menyatakan bahwa kegiatan daring dari program reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 81.7% menyatakan bahwa kegiatan daring dari program reskilling dan upskilling sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi.

  • Kegiatan luring (luar daringan) dari program reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 40.2% atau sebanyak 33 responden menyatakan bahwa kegiatan luring dari program reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi. 32.9% atau sebanyak 27 responden menyatakan bahwa kegiatan luring dari program reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi, 18.4% atau sebanyak 15 responden menyatakan bahwa kegiatan luring dari program reskilling dan upskilling cukup sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi dan sisanya 8.5% atau sebanyak 7 reponden menyatakan bahwa kegiatan luring dari program reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 73.1% menyatakan bahwa kegiatan luring dari program reskilling dan upskilling sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kompetensi.

  • Akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 56.1% atau sebanyak 46 responden menyatakan bahwa akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling sudah sangat sesuai dengan yang diharapkan. 24.4% atau sebanyak 20 responden menyatakan bahwa akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan yang diharapkan. 13.5% atau sebanyak 11 responden menyatakan bahwa akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling cukup sesuai dengan yang diharapkan dan sisanya 6% atau sebanyak 5 responden menyatakan bahwa akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling tidak sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 80.5% menyatakan bahwa akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Evaluasi program reskilling dan upskilling dilihat dari kompetensi pendidik. Berdasarkan kelompok pertanyaan dapat disimpulkan:

  1. Peningkatan kualitas kompetensi professional setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 81.7% atau sebanyak 67 responden menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi professional setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 14.7% atau sebanyak 12 responden menyatakan cukup terjadi peningkatan kompetensi professional setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Dan sisanya 3.7% atau 3 responden menyatakan bahwa tidak terjadi peningkatan kompetensi professional setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 81.7%menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi professional setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 

  • Peningkatan kualitas kompetensi kepribadian setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 79.2% atau sebanyak 65 responden menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi kepribadian setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 15.8% atau sebanyak 13 responden menyatakan cukup terjadi peningkatan kompetensi kepribadian setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Dan sisanya 4.9% atau 4 responden menyatakan bahwa tidak terjadi peningkatan kompetensi kepribadian setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 79.2%menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi kepribadian setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 

  • Peningkatan kualitas kompetensi sosial setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 81.7% atau sebanyak 67 responden menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi sosial setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 13.4% atau sebanyak 11 responden menyatakan cukup terjadi peningkatan kompetensi sosial setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Dan sisanya 4.9% atau 4 responden menyatakan bahwa tidak terjadi peningkatan kompetensi sosial setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 81.7% menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi sosial setelah mengikuti program reskilling dan upskilling.

  • Peningkatan kualitas kompetensi pedagogik setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling

Dari 82 responden 81.7% atau sebanyak 67 responden menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi pedagogik setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. 13.4% atau sebanyak 11 responden menyatakan cukup terjadi peningkatan kompetensi pedagogik setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Dan sisanya 4.9% atau 4 responden menyatakan bahwa tidak terjadi peningkatan kompetensi pedagogik setelah mengikuti program reskilling dan upskilling. Berdasarkan pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa 81.7% menyatakan bahwa terjadi peningkatan kompetensi pedagogik setelah mengikuti program reskilling dan upskilling.

Berdasarkan daftar pertanyaan kuesioner yang diajukan kepada 82 responden dapat disimpulkan pada tabel 1 berikut:

TABEL 1

REKAPITULASI HASIL KUESIONER

EFEKTIVITAS PROGRAM RESKILLING DAN UPSKILLING BDP

TAHUN 2020 – 2021

NoPertanyaanSesuai (%)Cukup Sesuai (%)Tidak Sesuai (%)
1Materi pada program reskilling dan upskilling 75.617.17.3
2Penguasaan materi dari narasumber industri  71.921.96.2
3IDUKA pada kegiatan resklling dan upskilling 70.820.78.5
4Program magang pada kegiatan reskilling dan upskilling 84.212.23.6
5Sinkronisasi kurikulum pada kegiatan reskilling dan upskilling 65.825.78.5
6Kegiatan daring (dalam jaringan) dari program reskilling dan upskilling 81.7117.3
7Kegiatan luring (luar daringan) dari program reskilling dan upskilling 73.118.48.5
8Akomodasi selama luring kegiatan reskilling dan upskilling 80.513.56
9Peningkatan kualitas kompetensi professional setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling 81.7 14.73.6
10Peningkatan kualitas kompetensi kepribadian setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling  79.215.85
11Peningkatan kualitas kompetensi sosial setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling 81.7 13.44.9
12Peningkatan kualitas kompetensi pedagogik setelah mengikuti kegiatan reskilling dan upskilling81.713.44.9

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa presentase tertinggi yaitu 84.2% dari 82 responden menyatakan bahwa program magang guru pada reskilling dan upskilling yang dijalankan pemerintah untuk guru SMK sudah sangat sesuai dengan kebutuhan kompetensi guru. 

Secara keseluruhan bahwa program reskilling dan upskilling yang dijalankan pemerintah sudah efektif bagi peserta yaitu guru SMK BDP se-Indonesia dengan data leih dari setengah responden menjawab sesuai pada 12 pertanyaan yang diajukan. Diharapkan dengan adanya program ini dapat membuat kompetensi guru SMK umumnya dan BDP khususnya memiliki kompetensi yang sesuai dengan keadaan sebanarnya di lapangan diharapkan juga dengan adanya program reskilling dan upskilling dapat dilakukan sinkronisasi kurikulum sehingga kurikulum yang diterbitkan oleh pemerintah dapat disesuaikan dengan IDUKA sehingga dapat dicantumkan kompetensi tambahan bila diperlukan, hal tersebut bertujuan untuk mengingkatkan kualitas lulusan SMK agar dapat memenuhi kebutuhan industri dan dapat mengurangi angka pengangguran jenjang SMK di Indonesia. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *